terInspirasi dari --->
Saya pun terpaksa menulis judul itu....
Judul itu memang provokatif dan emosional. Itu merupakan bentuk kekesalan saya terhadap ijasah sarjana yang saya miliki. Saya akui, sebagai manusia bodoh, kesalahan bermuara pada diri saya sendiri. Bisa jadi saya tidak siap dengan tujuan-tujuan hidup yang tidak tercapai maupun belum tercapai.
Ijasah sarjana memang penting, tetapi bukan segala-segalanya. Ada sebagian orang merasa ijasah sarjananya berguna. Ijasah itu menjadi salah satu daya tawar untuk melamar kerja. Misalnya, pegawai negeri sipil (PNS). Selain itu, tak sedikit sarjana yang bekerjanya tidak sesuai gelar kesarjanaan.
Memang, saya menilainya dari sisi negatif, termasuk pada diri saya sendiri. Sungguh itu tak bijaksana. "Hanya aku ... yang menjadikan diriku berharga" (A.A. Navis dalam novel Saraswati: Si Gadis dalam Sunyi, 2002:15). Sebaiknya saya mencamkan baik-baik kutipan itu. Kesuksesan memang tidak selalu identik dengan gelar sarjana yang disandang. Bahkan, kalau mau curang, silakan beli gelar sarjana. Harganya bervariasi. Ada yang bilang Rp 12.000.000,- untuk ijasah sarjana tanpa ada perkuliahan pada umumnya.
Saya mendengarnya dari seorang bapak, tetangga yang tinggal di dusun sebelah. Anaknya dibelikan ijasah sarjana akuntansi. Kemudian, anaknya juga dibelikan bangku PNS pada suatu dinas. Ada juga yang membeli ijasah sarjana komputer. Saat diminta mengoperasikan komputer, sang sarjana tidak bisa. Saya mengatahuinya dari koran lokal. “Semua tergantung dari putusan pengadilan,” kata bapak yang kenal dengan bupati itu tadi.
Bapak yang pernah saya temui di sawahnya itu juga menawarkan bangku PNS pada saya. Dia menawarkan Rp 175.000.000,- pada keluarga saya. Sungguh jumlah yang tidak kecil. Saya pun berkata, “bukankah formasi sosiologi nonkependidikan tidak ada di kabupaten ini.” “Itu semua bisa diatur dengan meminta formasi,” kata sang bapak tadi.
Uang, uang, dan uang. Bangku PNS pun dapat dibeli dengan uang. Permintaan orang yang ingin menjadi PNS tinggi. Sebagian bangku PNS pun dijual dan penjualnya mendapatkan uang. Lowongan pekerjaan pun menjadi bisnis. Sebagian orang menyayangkan cara sogok itu sebagai cara yang tidak jujur. Memang, pekerjaan seperti PNS rawan cara-cara seperti itu. Rebutan pekerjaan pun tak terhindarkan.
Harga pekerjaan seperti PNS untuk formasi tertentu lebih tinggi daripada uang. Uang harus berbicara dan bertindak demi sebuah pekerjaan, status. Tentu saja masa depan seseorang yang menyangkut karier atau pekerjaan sampai pada jodoh dan kehidupan rumah tangga. Memang, pekerjaan tidak sama dengan jodoh dan kehidupan rumah tangga. Namun, antara karier dan kehidupan rumah tangga memiliki kaitan erat. Maka dari itu, pengangguran bisa menjadi masalah.
Saat tulisan ini saya godok, saya juga mendengar tentang jual beli pekerjaan. Pekerjaan itu adalah karyawan pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kabarnya, untuk dapat menjadi karyawan di SPBU itu seseorang harus merogoh kocek Rp 10.000.000,-. Tetangga saya pernah tertipu dengan iming-iming pekerjaan itu meskipun pada akhirnya uangnya bisa kembali, tetapi tidak seluruhnya.
Dalam pembicaraan itu sang bapak secara tersirat merendahkan ijasah sarjana saya. Buktinya, meskipun saya sudah bergelar sarjana, tetapi masih pengangguran. Belum bisa mencari uang sendiri. Seringkali kesuksesan dinilai oleh jumlah uang yang didapat. Dalam hati saya ingin marah. Namun bagaimana lagi, saya memang tipe manusia bodoh.
Dalam hati saya berkata, “sudahlah, tidak jadi PNS guru sosiologi juga tidak apa-apa. Biarlah ijasah sarjana saya tidak berguna meskipun selama enam tahun kuliah, orang tua saya sudah mengeluarkan uang sekitar Rp 50 juta.” Jumlah itu tentu tidak sedikit untuk keluarga petani seperti orang tua saya. Mudah-mudahan ini tidak menjadi beban yang berlebihan untuk saya.
Mungkin saya salah pilih jurusan saat kuliah. Mungkin juga saya salah memilih perguruan tinggi. Atau jangan-jangan garis hidup yang saya maupun bentukan masyarakat memang begitu. Bisa pula Tuhan memang menentukan seperti ini. Jika saat itu saya memilih pendidikan komputer atau pendidikan bahasa Jawa mungkin saya dengan mudah bisa menjadi PNS. Kabarnya formasi untuk guru bahasa Jawa ada yang tak terisi. Komputer pun masuk dalam mata pelajaran sehingga kebutuhan akan guru komputer terbuka lebar.
Sayangnya, saya tak bisa kembali ke masa lalu. Jika saya dapat kembali ke masa lalu dan berpikir seperti sekarang maka juga tak ada jaminan saya tidak akan mengeluh. Saya yakin pilihan saya saat itu sudah yang terbaik. Saya berusaha ikhlas menerima pilihan saya sendiri. Saya pun bersyukur dan berusaha tidak terlalu menyesal. Tinggal bagaimana mengelola keadaan sekarang ini untuk hari esok yang lebih baik.
Benar juga. Setiap orang sebaiknya tidak perlu sekolah sampai perguruan tinggi. Apalagi jika jurusan yang dipilihnya kurang cerah. Terlebih lagi salah memilih jurusan. Diprediksi setelah lulus kuliah akan sulit mendapatkan pekerjaan. Apalagi pegawai negeri sipil (PNS). Kecuali jika sebagai orang Jawa mau merantau, misalnya ke Kalimantan. Kabarnya kesempatan menjadi PNS terbuka lebar di sana. Meskipun demikian, nasib seseorang ke depan tidak ada yang tahu.
Saya sendiri belum siap merantau, misalnya ke Kalimantan. Seakan-akan di kampung inilah saya akan mengais rezeki. Di dusun ini pula saya berharap bisa bermanfaat bagi masyarakat saya. Di sini pula saya akan mati dan dikuburkan bersama orang-orang lainnya yang telah mendahului. Agaknya itulah pilihan hidup saya sampai hari ini.
Seorang sarjana juga bukan manusia super. Apalagi tipe sarjana bodoh seperti saya. Sarjana juga manusia biasa pada umumnya yang juga menjalani kehidupan getir. Dari segi pendapatan saya masih kalah dengan seorang lulusan SMA swasta, tetangga saya. Ibunya kaya dan membuatkannya rumah besar sekaligus pertokoan. Dia yang memiliki mobil itu tidak perlu susah-susah kuliah. Tidak perlu bersusah payah mengerjakan skripsi. Tidak kuliah pun dia sudah kaya dengan melebarkan sayap bisnis ibunya. Membuka toko dan memberikan pinjaman uang dengan jaminan surat berharga seperti BPKB kendaraan bermotor.
Teman saya saat Sekolah Dasar (SD) yang lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) juga tergolong sukses. Bahu membahu bersama suaminya bisnis bidang jasa pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Malaysia. Sebelumnya suami istri itu juga menjadi tenaga kerja di Malaysia. Jadi, tujuannya memang mencari uang.
Jadi, saat saya kuliah, teman SD saya itu sudah mencari uang. Saya sendiri juga berusaha mencari uang saat kuliah, tetapi sulit. Saya hanya bisa melakukan seperti senantiasa mencari tempat kos yang nyaman dan murah. Karena itu, saya sempat pindah kos sebanyak tiga kali. Justru, orang tua saya malah mengeluarkan uang untuk kuliah saya.
Ada lagi contoh lain. Tetangga depan rumah saya sekarang memugar total rumahnya dengan rumah tingkat. Kata orang-orang dia menjadi makelar tanah dan untung Rp 25.000.000,- dalam sekali transaksi penjualan tanah. Kalau tidak salah dia yang sudah bercucu dua itu hanya lulusan SD.
Hal kecil manfaat kuliah yang saya petik adalah kesadaran menggosok gigi. Mungkin jika saya tidak kuliah maka saya tidak akan tahu bahwa ada karang gigi di gigi saya. Kini, saya menyikat gigi secara teratur meskipun hanya saat sebelum tidur malam. Saya juga membiasakan diri memakai dental floss untuk membersihkan sisa makanan yang tidak dapat dijangkau oleh sikat gigi.
Akan tetapi, sebetulnya kesadaran akan kesehatan gigi itu tidak harus diperoleh lewat kuliah seperti saya. Seseorang dapat menemukan informasi tentang kesehatan gigi dari membaca. Misalnya dari internet. Mungkin juga gigi seseorang memang kuat sehingga tidak memerlukan perawatan gigi yang ekstra.
Di samping itu, seakan-akan studi untuk meraih gelar sarjana selama hampir enam tahun juga sia-sia. Selama studi itu seakan-akan saya hanya menjadi konsumen kertas. Bayangkan, terkadang dosen meminta mahasiswa untuk membuat makalah yang harus dicetak dengan printer. Selama enam tahun itu sudah lebih dari 5 rim HVS telah saya habiskan. Termasuk saat pembuatan skripsi.
Dalam batas tertentu, kuliah hanya menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya yang sia-sia. Beberapa dosen terkesan mengajar secara asal-asalan. Konsepnya usang dan membuat mahasiswa bosan. Kebosanan itu terkadang diekspresikan mahasiswa lewat tulisan tipe x warna putih di balik bangku kuliah. Penugasan seperti pembuatan makalah seolah-olah dosen mempermainkan mahasiswa. Akar filsafat pendidikan pun rapuh. Bisa jadi ini hanya pengalaman saya yang subyektif.
Sebaiknya saya memang tidak perlu terlalu merasa sebagai satu-satunya orang yang paling menderita di dunia ini. Kiranya ini bukan akhir dari segalanya. Masih ada kesempatan lain meskipun saya tidak tahu kapan kesempatan itu akan datang. Dalam setiap ikhtiar yang setiap orang lakukan, jalan hidup setiap orang berbeda-beda.
No comments:
Post a Comment